Jumat, 09 Agustus 2019

Refleksi Gerilya

Pemimpin dan bos acap kali disamakan. Bukan tentang siapa tapi lebih kepada bagaimana. Tentang cara, karakter, dan tipikal dalam memanage. Entah apa dasarnya, tapi lebih ringan dan akrab. Bos, itu sapaan berkelas. Ya, bos namanya. Bukan karena kebijakan atau benar salahnya berucap. Bertindak sekalipun. Segan. Ada juga momok di sana. Bak Tuhan yang tak pernah salah. Butuh disembah. Dirinya, bukan kebenarannya. Dikultuskan utuh.

Bos itu lebih kepada sifat. Mudah marah. Wibawanya sebuah dusta tapi keniscayaan. Prestasi bawahannya adalah miliknya total. Menyuruh, memerintah tak kompromi. Kerap, seiring sanksi pada telunjuknya. Sering karena merasa ada pada posisi yang benar. Possessively. Raja sang penguasa yang absolut.

Egois. Kalian yang diatur lebih baik pergi daripada harus bertahan pada ketidakpatuhan. Memberinya input perbandingan sama saja melemahkan, meremehkan, menganggap buah pikirnya tidak sempurna. Adalah mengumbar kekurangannya. Apatah lagi mengomentari. Dia telah dibantai, dibanting, dinodai kehormatannya. Tidak mengenal hak itu dalam literatur kamusnya. Sebab stafnya tak lebih sebagai babu. Pembantunya. Tak ada mitra. Dan mengkritiknya, bersiaplah menjadi musuhnya. Persis Firaun yang menindas.
Aku...! Kalian bukan aku atau kita. Itu yang ada di kepalanya.

Tidak pada pemimpin. Hatinya populis. Satu nafas dalam perjuangan. Derita bawahannya adalah pilu_risaunya. Kebahagiaan kalian_definisi suksesnya. Tidak menakar yang didapatnya. Tapi pada apa persembahannya. Untuk stafnya, kalian telah menjadi sahabat atau saudara.
Seperti pidatonya Presiden Amerika. John Kennedy. Menuntut bukan apa yang telah kau dapatkan tapi apa yang telah kau persembahkan.

Spirit. Mengayomi dan memaafkan, setia setiap helai salahmu. Hadiah ditangannya. Tak ada musuh, apalagi kezoliman. Sebab kita satu tubuh, satu keluarga.
Low profil karena menyadari kekuasaanya hanyalah titipan. Keputusannya ada pada kesepakatan. Demokratis. Tapi konsisten dan tegas. Pula berwibawa bukan karena pencitraan. Tak ada pelacur dalam forum. Srigala yang rakus apalagi kucing bodoh yang lapar.
Kita semua bersama. Itulah teladan, bos yang memimpin. Bukan pemimpin yang isi otaknya bos. Tetapi lebih seperti dia. Sang proklamator, Bung Karno. Kharismatik.

Hmm...mulai beranjak malam. Ini bukan sakit hati atau dendam pada rezim. Tapi renungan pada gelapnya parit geriliya prajurit ketika itu. Di sana tak ada bos. Hanya ada pemimpin. Komandan yang siap mati untuk pasukan dan negerinya.

Tepat 74 tahun. Menyadarkan lagi kita yang tidur dan bermimpi dikasur empuk. Negeri telah merdeka. Tak ada lagi bunyi kelongsong peluru atau intaian "sanggila/gorombola" seperti cerita menyeramkan di kampung kami. Tak ada lagi bambu runcing, bedil, keris atau mesiu yang ditenteng. Tapi buku dan pena.

Kolonial telah mati bersama kekuasaannya. Kerja rodinya. Tak ada lagi penindasan, dan monopoli lewat pelayaran honginya lagi. Sebab kini proklamasi di kepala kita. Indonesia adalah aku, kau dan kalian. Untuk kita semua.
Merdeka...!

Agustus, 2019
Dirgahayu RI ke-74
________________________
Ig. diat_mahadia
Fb. dia mahadia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar